Tren

Ribuan WNI Korban TPPO, Banyak Tergiur Loker ke Luar Negeri

TopCareer.id – Ribuan Warga Negara Indonesia (WNI) dilaporkan menjadi korban perdagangan orang, dengan banyak dari mereka mengaku tergiur lowongann kerja (loker) bergaji tinggi di luar negeri.

Hal ini diungkap oleh Jobstreet by SEEK yang bekerja sama dengan United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC), dalam rangka mencegah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) di tanah air.

“Perdagangan orang saat ini semakin banyak difasilitasi oleh teknologi digital, di mana pelaku memanfaatkan berbagai platform online untuk merekrut dan mengeksploitasi korban melalui modus yang semakin kompleks,” kata Abie Sancaya, National Programme Officer, UNODC Indonesia, mengutip siaran pers, Senin (3/8/2026).

Menurut International Organization for Migration (IOM), kasus perdagangan orang untuk “forced criminality” terkait operasi online scam di Asia Tenggara meningkat dari 296 kasus pada 2022 menjadi 978 kasus pada 2023, sebelum turun menjadi 492 kasus pada 2024. Namun angka 2024 tetap sekitar 66 persen lebih tinggi dibandingkan 2022.

Baca Juga: Awas, Ada Lowongan Kerja Palsu Mengatasnamakan Jobstreet

Banyak korban direkrut melalui iklan lowongan palsu dan skema migrasi menyesatkan sebelum dipaksa bekerja di “scam compound” dan menjalankan penipuan daring sebagai bentuk kerja paksa.

Laporan PBB juga memperkirakan setidaknya ada 120.000 orang di Myanmar dan sekitar 100.000 orang di Kamboja yang diperdagangkan dan dipaksa menjalankan operasi online scam. Korban dipindahkan lintas negara, identitas dan dokumen mereka ditahan, sementara aktivitas kejahatan disamarkan sebagai “pekerjaan digital” yang sah.

Pada kasus-kasus ini, WNI disebut sebagai yang paling terdamak. Menurut Trafficking in Persons Report 2024 – Indonesia dari US Department of State, ribuan WNI teridentifikasi dalam operasi online scam di Asia Tenggara, dengan lebih dari 3.200 WNI masuk data kasus dan lebih dari 1.100 orang diidentifikasi sebagai korban perdagangan orang.

Banyak dari korban mengaku awalnya tertarik tawaran gaji bergaji tinggi di luar negeri, yang dipromosikan melalui pesan pribadi, group chat, atau iklam tidak terverifikasi.

Baca Juga: Menteri PPPA Soroti Kasus Kekerasan Seksual dari Lowongan Kerja Palsu

Data Simfoni Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) 2021–2025 juga mencatat sedikitnya 1.276 perempuan dewasa dan 44 laki-laki dewasa sebagai korban TPPO yang tercatat secara nasional.

Di kelompok anak, terdapat 1.096 anak perempuan dan 137 anak laki-laki sebagai korban. Angka ini diyakini hanya puncak dari fenomena “gunung es” karena banyak kasus yang belum terlapor.

Di sisi lain, pelaku kejahatan memanfaatkan kanal yang sulit diawasi seperti pesan instan, grup informal, hingga media sosial untuk menyebarkan iklan lowongan kerja abal-abal. Proses rekrutmen sengaja dipindahkan ke luar platform resmi agar pelaku leluasa mengubah syarat kerja, meminta data pribadi, hingga menekan korban untuk membayar berbagai biaya.

Di era digital, perekrutan yang tidak terstruktur dan tidak terdokumentasi inilah yang membuka celah besar bagi TPPO.

Sawitri, Head of Country Marketing Indonesia, Jobstreet by SEEK mengatakan bahwa penipuan lowongan kerja merupakan salah satu modus yang kian marak menjerat korban.

“Karena itu, kami menempatkan keamanan dan integritas platform sebagai prioritas mulai dari verifikasi berlapis, deteksi dini berbasis AI, hingga edukasi berkelanjutan bagi pencari kerja,” kata Sawitri.

Banner Loker

Related Articles

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Back to top button